7 DASAR MAKNA PUASA BAGI ORANG KRISTEN

Jumat, 15 Januari 20100 komentar

Ada Tujuh (7) dasar dan makna puasa bagi orang Kristen didasarkan cara pandang atau perpektif Kristen:

1) Puasa adalah satu bentuk latihan rohani orang Kristen yang bersifat teosentris. Tujuannya melatih iman, kesetiaan dan sikap harap hanya pada Tuhan. Memusatkan diri pada Tuhan Umumnya dilakukan bareng dengan doa, (Dan. 9: 3, Ezra 8: 23), pengakuan 1 Sam 7:6; Neh 9: 1-2, sikap prihatin-berkabung dan mencari Tuhan (Yoel 2: 12) dan merendahkan diri (Ul. 19: 18; Neh 9:1). Puasa sejatinya melatih orang Kristen memiliki pendengaran rohani yang lebih peka kepada kebenaran Firman Tuhan. Iman menjadi lebih kuat dengan topangan berpuasa sehingga menghasilkan kuasa rohani yang bersumber dari Tuhan dan firmanNya.

2) Puasa hakekatnya adalah kegiatan yang bersifat personal, pribadi orang Kristen terhadap Allah Trinitas (Zak 7: 5; Mat 6: 18), bukan untuk trend konsumsi publik. Tidak untuk dipamerkan apalagi diumumkan ke orang (Mat. 6: 16-18) sehingga secara sengaja atau tidak, orang lain jadi tahu bahwa kita puasa.

3) Puasa bagi orang Kristen bukan sekedar kegiatan untuk memenuhi syarat ritual agamawi semata yang "lepas" atau terpisah dari kesaksian hidup riel seseorang sehari-harinya. Selain tidak makan dan tidak minum di hari puasa, perilaku orang Kristen sehari-harinya harus selaras dengan tujuan puasa itu sendiri ©¤ perilaku yang fair/adil tidak curang atau mencurangi, memiliki nurani membela mereka yang menderita kelaliman, tertindas, teraniaya dan kuk perhambaan (Yes. 58: 6-7). Punya nurani untuk membagi kelebihan bagi orang yang lapar, memberi tumpangan bagi orang miskin - tuna wisma, mereka yang telanjang dan sudi menolong saudara yang patut ditolong dengan cara dan waktu yang berkenan pada Tuhan (Yes. 58: 3-5).

4) Puasa konsekuensinya tidak boleh dijalankan orang Kristen dengan pura-pura, sekedar untuk menjadi topeng atau "tampak luar" agar dilihat orang suci, "tidak rusak-rusak amat", dapat dihargai dan saleh, penuh kemunafikan apalagi dengan main-main sekedar ikut-ikutan (Yes. 58: 3-5, Mat. 6: 16, Luk 18: 12, Yer 14: 12). Puasa bukan seperti yang dilakukan oleh para tua-tua dan pemuka Jizreel (1 Raja2 21: 12), Ahab (1 Raja2 21: 17) atau orang-orang Farisi (Mark 2: 18; Luk 18:2) melainkan puasa yang dijalankan secara "silent" (diam-diam) dan serius oleh Yesus seorang diri di padang gurun (Mat 4:2), Musa (Kel. 34: 28), Elia (1 Raja2 19:8), Daniel (Dan. 9:3), Daud (2 Sam 12: 16), Nehemia (Neh 1:4), Para Rasul (2 Kor 6:5) dan orang Kristen mula-mula(Kis13: 2).

5) Puasa melatih kerendahan hati (Mz. 35: 13). Menambah keikhlasan orang Kristen untuk melayani Tuhan dan pekerjaan Tuhan serta sikap melayani sesama lebih muncul dari dalam hati sanubari. Semakin orang Kristen berpuasa tidak akan membuatnya jadi sombong atau "sok rohani" atau "sok beribadah". Rasa solidaritas sosial kita terutama terhadap mereka yang berkekurangan semakin bertambah dengan makin seringnya kita berpuasa.

6) Puasa melatih orang Kristen memiliki hati yang makin murni, tulus, menjauhkan dari niat-niat, imajinasi, obsesi yang keliru dan tidak baik; menyucikan hati kita di hadapan Tuhan (Mz. 69: 11). Puasa tidak bisa menyelamatkan orang dari dosa untuk masuk Sorga karena yang bisa melakukan hanya anugerah pengorbanan darah Kristus di kayu salib, ©¤ sola gratia, sola fide ©¤ (Ef. 2: 8-9; Yoh. 3: 16; 1 Yoh. 5: 11-12); tetapi puasa bisa berperan melatih hati menjadi tidak semakin licik, licin dan bulus di hadapan Tuhan dan terhadap orang lain.

7) Bilapun ada puasa yang dijalankan orang Kristen secara massal, secara beramai-ramai sekaligus (puasa umat, puasa bangsa), maka puasa tersebut dijalankan secara spontan oleh karena penyesalan dan keprihatinan bersama yang mendalam (dari dalam hati sanubari) karena persoalan besar yang dihadapi bersama. Seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Israel (Hak 20: 26; Ezra 8: 21; Ester 4:3, 16; Yer 36:9); orang-orang Yabesy-Gilead (1 Sam 31: 13) dan orang-orang Niniwe di jaman Yunus (:Yun 3: 5-8).
Bukan sekadar rekayasa oleh pihak yang lebih berkuasa, berkat didorong, dipaksa, dimobilisasi dengan kekerasan oleh satu ketentuan, hukum atau undang-undang ©¤ yang membuat orang menjadi takut menderita hukuman sekarang dan nanti ©¤ tetapi muncul dari benak kesadaran dan nurani yang tulus untuk melakukan puasa bersama. Dengan demikian puasa bersama atau puasa massal ini tetap menjunjung tinggi hak pribadi seseorang untuk mau menjalankan kegiatan tsb atau tidak di hadapan Allah
Trinitas.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 - 2014. PELITA MISSION INDONESIA - All Rights Reserved
Design by : www.browalas.com